Showing posts with label Public Health. Show all posts
Showing posts with label Public Health. Show all posts

Wednesday, 8 November 2017

Jenjang Karir Mahasiswa Kesehatan Masyarakat

Berhubung saya adalah mahasiswa jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, jadi gak ada salahnya pada artikel kali ini Gomu Gomu Ku akan sedikit negbahas mengenai prospek karir yang bisa Anda capai jika Anda sekarang adalah seorang mahasiswa baru jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat.
Karir di bidang kesehatan masyarakat memiliki banyak manfaat dan tentunya yang harus dipikirkan adalah bagaimana caranya mengejar karir tersebut.. Banyak orang berpikirkesehatan masyarakat sebagai jalan karir yang memungkinkan Anda bekerja di fasilitas kesehatan, negara yang berbeda, atau pelayanan dan organisasi kesehatan yanglingkupnya lebih kecil lebih kecil jika dibandingkan karis dibidang lain. Namun, bekerja di bidang kesehatan benar-benar memungkinkan seseorang untuk bekerja dalam berbagai pekerjaan dan posisi yang berbeda serta peran yang tidak biasa. Untungnya ini adalah salah satu jalur karir terbaik karena bisa bergerak dan juga bisa mengejar karir yang berbeda. Namun untuk mencapai itu semua anda harus memiliki kompetensi dibidang kesehatan masyarakat salah satunya dengan mendapatkan gelar MPH karena akan bermanfaat dan memudahkan anda berkaris dibidang kesehatan masyarakat.


Manfaat utama bagi Anda yang memiliki gelar MPH adalah Anda dapat bekerja di berbagai bidang. Misalnya, banyak orang dengan latar belakang kesehatan masyarakat akhirnya bekerja di rumah sakit, universitas, instansi pemerintah, dan organisasi kesehatan umum. Daerah yang berbeda ini akan memungkinkan Anda bekerja dalam berbagai peran kapan pun Anda mau. Jika Anda ingin memulai karir Anda di satu bidang kemudian beralih ke yang lain, kesehatan masyarakat benar-benar memungkinkan Anda melalui transisi tersebut. Yang terpenting, Anda bisa melakukan transisi itu karena kesehatan masyarakat memberi Anda gelar yang umum namun terfokus.
Ini membawa saya ke poin kedua saya,  kesehatan masyarakat sangat bermanfaat karena derajatnya bersifat umum dan spesifik. Maksud saya, tingkatnya umum karena Anda akan belajar banyak tentang masyarakat dan bagaimana dampak kesehatan masyarakat. Namun, Anda juga akan mempelajari isu-isu spesifik yang penting bagi karir Anda sendiri. Misalnya, jika Anda tertarik dengan statistik, Anda biasanya dapat menggunakan kursus statistik untuk berfokus pada bagaimana menggunakan statistik untuk membantu kesehatan masyarakat. Contoh lain mungkin jika Anda tertarik dengan manajemen, Anda dapat dengan mudah berfokus pada kursus manajemen dalam kurikulum kesehatan masyarakat untuk membantu Anda lebih mengkhususkan diri di bidang tertentu. Dengan memberikan pengetahuan dasar kepada siswa dan memungkinkan mereka untuk mengambil spesialisasi di bidang tertentu, gelar ini menjadi sangat sukses bagi banyak siswa yang berbeda.
Manfaat berikutnya dari karir kesehatan adalah Anda dapat bekerja di berbagai wilayah termasuk di luar negeri atau di negara lain. Ada banyak program berbeda yang berfokus pada kesehatan global atau perawatan kesehatan di area tertentu. Dengan mengejar gelar ini, Anda akan memiliki kesempatan untuk bepergian ke luar negeri, bekerja di luar negeri, dan tinggal di luar negeri. Jika Anda tidak tertarik untuk bekerja atau tinggal di negara yang berbeda, kesehatan masyarakat masih sangat baik karena dapat memungkinkan Anda untuk berkeliling Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, di manapun Anda ingin memulai karir Anda. Anda bisa melakukan ini karena disiplin kesehatan berlaku di semua wilayah negara dan dunia. Umumnya, tidak banyak jalur karir yang memungkinkan Anda bekerja dalam satu keadaan dan kemudian dengan mudah beralih ke negara lain.
Kesimpulannya, salah satu cara terbaik untuk sukses dalam jalur karir ini adalah mendapatkan gelar MPH. Program gelar ini biasanya 1 sampai 2 tahun dan bisa dilakukan baik di kampus maupun online. Program ini biasanya memungkinkan Anda untuk mengambil spesialisasi di bidang tertentu seperti manajemen atau statistik. Selain itu, banyak dari program gelar kesehatan masyarakat ini tidak memerlukan tes penerimaan. Semua program ini memerlukan adalah bahwa Anda telah lulus dari perguruan tinggi dan memiliki nilai rata-rata yang layak.

Sampai disini dulu artikel kali ini, dan terima kasih bagi Anda yang sudah membaca artikel ini. Sampai jumpa di artikel berikutnya.
Salam...

Saturday, 4 November 2017

Kode Etik Ahli Kesehatan Masyarakat

KODE ETIK

( Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia )

 MUKADIMAH

Kesehatan dalam kehidupan manusia adalah salah satu komponen dari kesejahteraan masyarakat. Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat upaya peningkatan kesehatan di pengaruhi oleh lingkungan, prilaku, pelayanan kesehatan kesehatan dan faktor genetik. Kesehatan masyarakat sebagai ilmu dan seni untuk mencegah penyakit, mempepanjang masa hidup dan meningkatkan kesehatan melalui upaya bersama masyarakat secara terorganisir untuk sanitasi lingkungan, pemberantasan penyakit, pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan dan sebagainya, mengandung makna bahwa aspek oreventif dan promotif adalah lebih penting daripada kuratif dalam rangka peningkatan status kesehatan masyarakat. Pendekatan preventif-promotif yg melibatkan keikutsertaan masyarakat mempunyai implikasi bahwa klien profesi kesehatan masyarakat bukanlah individu, tetapi masyarakat. Dalam melaksanakan upaya kesehatan masyarakat perlu dilandasi oleh etika yg berazazkan Pancasila dan UUD 1945.
Dengan maksud yg mewujudkan pengabdian yg luhur,kami para Profesi Kesehatan Masyarakat Indonesia, dengan rahmat Tuhan yang Maha Esa, merumuskan KODE ETIK PROFESI KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA yang di uraikan dalam Bab-Bab dan Pasal-Pasal sebagai berikut :

BAB I
KEWAJIBAN UMUM

Pasal 1
Setiap Profesi Kesehatan Masyarakat Harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan etika profesi Kesehatan Masyarakat.

Pasal 2
Dalam melaksanakan tugas dan Fungsinya profesi Kesehatan Masyarakat lebih mementingkan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.
Pasal 3
Dalam melaksanakan tugas dan Fungsinya, hendaknya menggunakan prinsip efektifitas-efesiensi dan mengutamakan penggunaan teknologi tepat guna,
Pasal 4
Dalam melaksanakan tugas dan Fungsinya, tidak boleh membeda-bedakan masyarakat atas pertimbangan-pertimbangan agama, suku, golongan,sosial politik dan sebagainya.

Pasal 5
Dalam melaksanakan tugas dan Fungsinya hanya melaksanakan profesi atau keahliannya.

BAB II
KEWAJIBAN TERHADAP MASYARAKAT
Pasal 6
Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, selalu berorientasi kepadamasyarakat sebagai salah satu kesatuan yg tidak terlepas dari aspek sosial, ekonomi,politik,psikologis dan budaya.
Pasal 7
Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya,harus mengutamakan pembinaan kesehatan yang menyangkut orang banyak.
Pasal 8
Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, harus mengutamakan pemerataan dan keadilan.
Pasal 9
Dalam pembinaan kesehatan masyarakat harus mengutamakan pendekatan menyeluruh, multidisiplin dan lintas sektoral serta mementingkan usaha-usaha promotif, preventif, protektif dan pembinaan kesehatan.
Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya
Pasal 10
Upaya pembinaan masyarakat, kesehatan masyarakat hendaknyadidasarkan kepada fakta-faktailmiah yang diperoleh dari kajian-kajian dan penelitian-penelitian.
Pasal 11
Dalam pembinaan kesehatan masyarakat, hendaknya mendasarkan kepada prosedur dan langkah-langkah yg profesional yang telah diuji melalui kajian-kajian ilmiah.
Pasal 12
Dalam menjalankan tugas dan funsinya harus bertanggung jawab dalam melindungi, memelihara dan meningkatkan kesehatan penduduk.
Pasal 13
Dalam menjalankan tugas dan fungsinya harus berdasarkan antisipasi kedepan, baik yang menyangkut masalah kesehatan maupun masalah lain yang berhubungan atau mempengaruhi kesehatan penduduk.

BAB III
KEWAJIBAN TERHADAP PROFESI KESEHATAN LAIN
DAN PROFESI DI LUAR BIDANG KESEHATAN
Pasal 14
Dalam melakukan tugas dan fungsinya,harus bekerjasama dan saling menghormati dengan anggota profesi lain, tanpa di pengaruhi oleh pertimbangan-pertimbangan keyakinan, agama, suku, golongan dan sebagainya.
Pasal 15
Dalam melakukan tugas dan fungsinya bersama-sama dengan profesi lain, hendaknya berpegang pada prinsip-prinsip : Kemitraan, Kepemimpinan, Pengambilan Prakarsa dan Kepeloporan.

BAB IV
KEWJIBAN TERHADAP PROFESINYA
Pasal 16
Ahli kesehatan masyarakat hendaknya bersikap proaktif dan tidak menunggu dalam mengatasi masalah.
Pasal 17
Ahli kesehatan masyarakat hendaknya senantiasa memelihara dan meningkatkan profesi kesehatan masyarakat.
Pasal 18
Ahli kesehatan masyarakat hendaknya senantiasa berkomunikasi membagi pengalaman dan saling membantu diantara anggota profesi kesehatan masyarakat.
BAB V
KEWAJIBAN TERHADAP DIRI SENDIRI
Pasal 19
Profesi kesehatan masyarakat harus memelihara kesehatannya agar dapat melaksanakan tugas profesinya dengan baik.
Pasal 20
Ahli kesehatan masyarakat senantiasa berusaha untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

BAB VI
PENUTUP
Pasal 21
Setiap anggota profesi kesehatan masyarakat dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari harus berusaha dengan sungguh-sungguh memegang teguh kode etik kesehatan masyarakat indonesia.




Monday, 30 October 2017

Pengertian dan Cara Penularan HIV/AIDS

1.    Jelaskan pengertian HIV !
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus golongan RNA yang spesifik menyerang system kekebaan tubuh atau imunitas manusia yang kemudian akan menyebabkan Aquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Infeksi HIV berjalan sangat progresif merusak system kekebalan tubuh, sehingga penderita tidak dapat menahan serangan infeksi yang disebabkan oleh jamur, parasit, bakteri, ataupun virus.
Seorang yang terinfeksi HIV akan berkembang menjadi AIDS setelah beberapa periode waktu tertentu, mulai dari beberapa bulan sampai dengan 15 tahun.
Baca Juga :

2.    Jelaskan pengertian AIDS !
Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV;[1] atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain).

3.    Jelaskan perbedaan HIV dan AIDS !
Seorang yang terinfeksi HIV dapat tetap sehat selama bertahun-tahun tanpa ada tanda fisik atau gejala infeksi.Seorang yang terinfeksi virus tersebut tetapi tanpa gejala adalah HIV-positif atau mempunyai peenyakit HIV tanpa gejala.Apabila gejala mulai muncul, orang disebut mempunyai infeksi HIV bergeljala atau penyakit HIV lanjutan. Pada stadium ini seseorang kemungkinan besar akan besar akan mengembangkan infeksi opurtunistik. AIDS didefinisi sebagai jumlah sel CD4 dibawah 200 sel dan atau terjadinya satu atau lebih infeksi opurtunistik tertentu.
Perbedaan HIV dan AIDS
HIV
·    Membunuh sel darah putih dan cd4 yang melemahkan sistem kekebalan tubuh
·    Daya tahan tubuhnya lemah sehingga rentan akan infeksi kanker
·    Virus HIV masih dapat dikontrol dengan penggunaan antivirus
AIDS
·    Biasanya jumlah kandungan cd4 dibawah 200
·    Penderita AIDS terkena banyak infeksi penyakit macam kanker, TB dan sebagainya
·    Penyakit AIDS efek lanjutan dari terserang HIV setelah 2-15 tahun

4.    Jelaskan cara penularan HIV dan AIDS !
Cara Penularan HIVPada Tubuh Manusia
1.    Melalui Darah
Melaului transfusi darah yang sudah terkena virus hiv,pemakaian jarum suntik yang tidak steril dan juga jarum suntik yang dipakai secara bergantian contohnya yaitu jarum suntik yang digunakan oleh para pecandu narkotik.
2.    Melalui Hubungan Seks Bebas
Seks bebas juga merupakan penyebab utama penyebaran virus HIV. Apalagi hubungan yang melalui dubur atau anal paling beresiko tertular hiv.
3.    ASI
Jika ibu hamil mengidap HIV positif kemudian melahirkan janinnya. Lantas menyusui bayinya dengan air susu ibu. Dan menurut riset dari 10 ibu hamil divonis terkena HIV kemungkinan ada 3 bayi yang tertular.
Penyakit AIDS Tidak Ditularkan Melalui:
– Pemakaian alat makan atau makan bersama
– Keringat dan gigitan nyamuk
– Menguunakan fasilitas umum bersama
– berpelukan,bersenggolan ataupun berciuman

Monday, 16 October 2017

Peran Tenaga Kesmas, Dampak dan Efek Bencana, Serta Prinsip Kode Etis

NAMA KELOMPOK    :
1.    DEAN PATRIC DAMANIK
2.    FERA ROSMALIA
PRODI                          : IKM A NON REGULER
MATA KULIAH            : MANAGEMEN BENCANA

1.    Jelaskan peranan setiap tenaga kesehatan pada setiap bencana !
a.    Peran Perawat
1.        Pengobatan dan pemulihan kesehatan fisik
Bencana alam yang menimpa suatu daerah, selalu akan memakan korban dan kerusakan, baik itu korban meninggal, korban luka luka, kerusakan fasilitas pribadi dan umum,  yang mungkin akan menyebabkan isolasi tempat, sehingga sulit dijangkau oleh para relawan. Hal yang paling urgen dibutuhkan oleh korban saat itu  adalah pengobatan dari tenaga kesehatan. Perawat bisa turut andil dalam aksi ini, baik berkolaborasi dengan tenaga perawat atau pun tenaga kesehatan profesional, ataupun juga melakukan pengobatan bersama perawat lainnya secara cepat, menyeluruh dan merata di tempat bencana. Pengobatan yang dilakukan pun bisa beragam, mulai dari pemeriksaan fisik, pengobatan luka, dan lainnya sesuai dengan profesi keperawatan.


2.      Pemberian bantuan
Perawatan dapat melakukan aksi galang dana bagi korban bencana, dengan menghimpun dana dari berbagai kalangan dalam berbagai bentuk, seperti makanan, obat obatan, keperluan sandang dan lain sebagainya. Pemberian bantuan tersebut bisa dilakukan langsung oleh perawat secara langsung di lokasi bencana dengan memdirikan posko bantuan. Selain itu,  Hal yang harus difokuskan dalam kegiatan ini adalah pemerataan bantuan di tempat bencana sesuai kebutuhan yang di butuhkan oleh para korban saat itu, sehinnga tidak akan ada lagi para korban yang tidak mendapatkan bantuan tersebut dikarenakan bantuan yang menumpuk ataupun tidak tepat sasaran.

3.    Pemulihan kesehatan mental
Para korban suatu bencana biasanya akan mengalami trauma psikologis akibat kejadian yang menimpanya. Trauma tersebut bisa berupa kesedihan yang mendalam, ketakutan dan kehilangan berat. Tidak sedikit trauma ini menimpa wanita, ibu ibu, dan anak anak yang sedang dalam massa pertumbuhan. Sehingga apabila hal ini terus berkelanjutan maka akan mengakibatkan stress berat dan gangguan mental bagi para korban bencana. Hal yang dibutukan dalam penanganan situasi seperti ini adalah pemulihan kesehatan mental yang dapat dilakukan oleh perawat. Pada orang dewasa, pemulihannya bisa dilakukan dengan sharing dan mendengarkan segala keluhan keluhan yang dihadapinya, selanjutnya diberikan sebuah solusi dan diberi penyemangat untuk tetap bangkit. Sedangkan pada anak anak, cara yang efektif adalah dengan mengembalikan keceriaan mereka kembali, hal ini mengingat sifat lahiriah anak anak yang berada pada masa bermain. Perawat dapat mendirikan sebuah taman bermain, dimana anak anak tersebut akan mendapatkan permainan, cerita lucu, dan lain sebagainnya. Sehinnga kepercayaan diri mereka akan kembali seperti sedia kala.

4.    Pemberdayaan masyarakat
Kondisi masyarakat di sekitar daerah yang terkena musibah pasca bencana biasanya akan menjadi terkatung katung tidak jelas akibat memburuknya keaadaan pasca bencana., akibat kehilangan harta benda yang mereka miliki. sehinnga banyak diantara mereka  yang patah arah dalam menentukan hidup selanjutnya. Hal yang bisa menolong membangkitkan keadaan tersebut adalah melakukan pemberdayaan masyarakat. Masyarakat perlu mendapatkan fasilitas dan skill yang dapat menjadi bekal bagi mereka kelak. Perawat dapat melakukan pelatihan pelatihan keterampilan yang difasilitasi dan berkolaborasi dengan instansi ataupun LSM yang bergerak dalam bidang itu. Sehinnga diharapkan masyarakat di sekitar daerah bencana akan mampu membangun kehidupannya kedepan lewat kemampuan yang ia miliki.
b.    Peran Tenaga Kesehatan Masyarakat
Dalam menanggulangi bencana yang terjadi, terdapat suatu siklus untuk mengelola bencana.

Siklus 1. Manajemen Bencana
Dari siklus di atas, tenaga kesehatan masyarakat memiliki peran yang paling besar dibandingkan dengan peran tenaga kesehatan lainnya, yakni dimulai dari tahap rehabilitasi, rekonstruksi, mitigasi, hingga kesiapsiagaan menghadapi bencana sementara peran tenaga medis lebih besar dibutuhkan dalam merespon bencana.
1.    Rehabiltasi merupakan upaya untuk mengembalikan struktur dan fungsi ke bentuk seperti semula (sebelum terjadinya bencana), seperti misalnya dalam pemulihan suplay air dan listrik, penyediaan tempat pembuangan, serta memulihkan sarana transportasi dan komunikasi.
2.    Rekonstruksi merupakan upaya untuk mengembalikan sistem dan struktur ke fungsi atau bentuk yang lebih baik dari sebelum terjadi bencana. Hal yang dilakukan dalam tahap ini di antaranya ialah seperti Penilaian awal dan re-evaluasi bencana, Imunisasi dan skrining, Pengelolaan air dan sanitasi dan lain sebagainya.
3.    Mitigasi
4.    Kesiapsiagaan

2.    Jelaskan dampak dari bencana terhadap tenaga kerja !
Setelah terjadi bencana bukan hanya lingkungan fisik saja yang terkena dampaknya tetapi juga tenaga kerja. Terjadinya bencana menyebabkan kerusakan pada sector perekonomian, menghilngkan mata pencaharian dari para tenaga. Misalnya kerugian akibat kerusakan yang yang dirasakan oleh sector-sektor industry ataupun usaha tentu akan berdampak bagi tenaga kerja yang ada di dalamnya. Bisa berupa pengurangan pegawai (PHK) ataupun pengurangan pegawai. Hal ini tentu sangat riskan bagi kelangsungan hidup para tenaga kerja sekaligus korban dari bencana, yang telah kehiangan harta benda dan kini kegilangan harta pencaharian.
Disisi lain dampak bencana juga dapat mengakibatkan hilangnya tenaga kerja ahli yang bisa jadi adalah korban jiwa dari bencana yang terjadi. Hal ini tentu akan menyulitkan untuk mencari tenaga ahli serupa dibidangnya.

3.    Jelaskan persiapan yang harus dilakukan tenaga kesehatan untuk mengurangi dampak bencana !
a.    Penguatan institusi penanganan bencana.
b.    Meningatkan kemampuan tanggap darurat.
c.    Meningkatkan kepedulian dan kesiapan masyarakat pada masalah-masalah yang berhuungan dengan risiko bencana.
d.    Meningkatkan keamanan trhadap bencana pada sistem infrastruktur dan utilitas.
e.    Meningkatkan keamanan tehadap bencana pada bangunan strategis dan penting.
f.    Meningkatkan keamanan terhadap bencana daerah perumahan dan fasilitas umum.
g.    Meningkatkan keamanan terhadap bencana pada bangunan industry.
h.    Meningkatkan keamanan terhadap encana pada bangunan sekolah dan anak-anak sekolah.
i.    Memperhatikan keamanan terhadap bencana dan kaidah-kaidah bangunan tahan gempa dan tsunami serta banjir dalam proses pembuatan konstruksi baru.
j.    Meningkatkan pengetahuan para ahli mengenai fenomena bencana, kerentanan terhadap bencana dan teknik-teknik mitigasi.
k.    Memasukkan prosedur kajian risiko bencana kedalam perencanaan tata ruang/ tata guna lahan.
l.    Meningkatkan kemampuan pemulihan masyarakat dalam jangka panjang setelah terjadi bencana.

4.    Jelaskan efek bencana terhadap korban !
Salah satu bencana alam yang paling menimbulkan dampak paling besar, misalnya gempa bumi, selama 5 abad terakhir, telah menyebabkan lebih dari 5 juta orang tewas, 20 kali lebih banyak daripada korban gunung meletus. Dalam hitungan detik dan menit, jumlah besar luka-luka yang sebagian besar tidak menyebabkan kematian, membutuhkan pertolongan medis segera dari fasilitas kesehatan yang seringkali tidak siap, rusak, runtuh karena gempa. Bencana seperti tanah longsor pun dapat memakan korban yang signifikan pada komunitas manusia karena mencakup suatu wilayah tanpa ada peringatan terlebih dahulu dan dapat dipicu oleh bencana alam lain terutama gempa bumi, letusan gunung berapi, hujan lebat atau topan.
Manusia dianggap tidak berdaya pada bencana alam, bahkan sejak awal peradabannya. Ketidakberdayaan manusia, akibat kurang baiknya manajemen darurat menyebabkan kerugian dalam bidang keuangan, struktural dan korban jiwa.. Kerugian yang dihasilkan tergantung pada kemampuan manusia untuk mencegah dan menghindari bencana serta daya tahannya. Menurut Bankoff (2003): “bencana muncul bila bertemu dengan ketidakberdayaan”. Artinya adalah aktivitas alam yang berbahaya dapat berubah menjadi bencana alam apabila manusia tidak memiliki daya tahan yang kuat.

5.    Jelaskan prinsip-prinsip kode etis yang harus diterapkan selama bencana !
Prinsip Dasar
Dalam buku panduan The Sphere Project dijelaskan bahwa prinsip yang mendasari standar minimum tersebut diatas adalah Piagam Kemanusiaan (Humanitarian Charter) yang didasarkan pada prinsip – prinsip dan ketentuan hukum humaniter internasional, hukum internasional hak asasi manusia, hukum pengungsian dan Kode Perilaku untuk Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah dan Organisasi Non – Pemerintah dalam Respons Bencana (Code of Conduct for the International Red Cross and Red Crescent Movement and Non –
Governmental Organizations in Disaster Relief). Dalam buku panduan tersebut dijelaskan juga bahwa piagam tersebut menggambarkan prinsip – prinsip inti yang mengatur bantuan kemanusiaan dan menegaskan dua keyakinan dasar, yaitu;
1.    Pertama, segala usaha harus diuapayakan untuk meringankan penderitaan manusia akibat bencana dan konflik.
2.    Kedua, mereka yang terkena bencana mempunyai hak – hak terhadap kehidupan yang bermartabat dan oleh karenanya juga mempunyai hak terhadap bantuan.
Pedoman Perilaku Respons Bencana
Terdapat sepuluh pedoman ketentuan perilaku bagi para petugas kemanusiaan dalam merespons bencana. Seperti dijabarkan oleh Komite Palang Merah Internasional (ICRC) dalam buku panduan Sphere Project (2004), secara garis besar, substansi ketentuan tersebut adalah sebagai berikut:
1.    Mengutamakan panggilan kemanusiaan.
Hak untuk mendapat dan menawarkan bantuan kemanusiaan adalah prinsip kemanusiaan mendasar yang dimiliki oleh semua orang. Akses yang luas terhadap masyarakat yang terkena bencana harus diutamakan. Maka dari itu, tujuan utama dari bantuan kemanusiaan adalah untuk mengurangipenderitaan kelompok masyarakat yang paling tidak mampu dalam mengatasi dampak bencana.
2.    Prioritas bantuan ditentukan berdasarkan oleh kebutuhan bukan atas pertimbangan ras, kepercayaan ataupun kebangsaan.
Pemberian bantuan didasarkan pada hasil assessment yang objektif atas kebutuhan korban bencana dan kemampuan setempat untuk memenuhi kebutuhannya.
3.    Bantuan tidak boleh digunakan untuk kepentingan politik maupun agama.
Bantuan yang diberikan sama sekali tidak tergantung pada aliran kepercayaan atau politik si penerima bantuan dan tidak ada perjanjian yang mengikat sebagai konsekuensi dari penerimaan bantuan tersebut.
4.    Tidak menjadi alat kebijakan luar negeri pemerintah.
Tidak akan dengan sengaja atau karena kelalaian membiarkan institusi atau personilnya, digunakan sebagai alat untuk mengumpulkan informasi sensitif untuk kepentingan politik, militer ataupun ekonomi bagi pemerintah atau lembaga lain yang mungkin berkepentingan lain diluar koridor kemanusiaan. Begitu pula tidak akan bertindak sebagai alat kebijakan luar negeri dari negara donor.
5.    Budaya dan adat istiadat setempat harus dihormati.
Berusaha untuk menghargai budaya, tatanan dan kebiasaan yang berlaku pada masyarakat dan negara dimana respons bencana dilakukan.
6.    Upaya membangun kemampuan setempat untuk merespons bencana.
Meskipun dalam kerentanan, masyarakat setidaknya masih memiliki kemampuan. Untuk itu jika memungkinkan, kapasitas kemampuan tersebut harus diberdayakan.
7.    Melibatkan penerima bantuan dalam proses manajemen bantuan.
Bantuan dan rehabilitasi yang efektif dapat tercapai apabila penerima bantuan turut dilibatkan dalam perancangan, manajemen dan pelaksanaan program bantuan.
8.    Bantuan ditujukan untuk mengurangi kerentanan terhadap bencana di masa mendatang, juga untuk memenuhi kebutuhan pokok.
Program bantuan yang dilaksanakan dapat secara aktif mengurangi kerentanan para penerima bantuan terhadap bencana di masa mendatang, serta mengupayakan terbentuknya perilaku hidup mandiri yang berkelanjutan agar terhindar dari ketergantungan terhadap bantuan dari luar.
9.    Bertanggungjawab kepada penerima bantuan maupun pemberi sumbangan.
Semua kesepakatan dengan donor dan penerima bantuan harus didasari sikap keterbukaan dan transparansi.
10.    Semua materi informasi tetap memperhatikan para korban bencana sebagai manusia yang bermartabat, bukan sebagai objek yang tak berdaya.
Korban bencana hendaknya diperlakukan sebagai mitra sejajar dalam bekerja. Informasi kepada publik haruslah memberikan gambaran objektif tentang situasi bencana, dimana kemampuan dan aspirasi korban juga disampaikan dengan jelas, tidak hanya kerentanan dan ketakutan mereka.

6.    Jelaskan arti realawan !
Relawan adalah orang yang tanpa dibayar menyediakan waktunya untuk mencapai tujuan organisasi, dengan tanggung-jawab yang besar atau terbatas, tanpa atau dengan sedikit latihan khusus, tetapi dapat pula dengan latihan yang sangat intensif dalam bidang tertentu, untuk bekerja sukarela membantu tenaga profesional.

7.    Jelaskan dilema etis relawan dalam pengelolaan bencana !
Dilema etis yang dihadapi pada saat bencana berkaitan dengan hubungan antara 3 golongan, yaitu pasien atau korban, relawan, dan masyarakat. Oleh karena itu, dilema etis pada saat bencana dapat dibagi menjadi 3, yaitu:4
a.    Relawan – korban (mikro)
-    Perawatan pada pasien yang terluka tetapi masih bisa berjalan yang meminta perhatian lebih
-    Menentukan triase secara objektif, akurat, dan sesuai etik
-    Perawatan untuk orang asing, militer, tahanan, dll
-    Menyeimbangkan integritas dengan empati
-    Menjaga privasi di tengah situasi yang tidak kondusif
b.    Relawan – relawan (meso)
-    Menghadapi relawan yang tidak professional, ceroboh
-    Absennya pemimpin dalam tim
-    Keselamatan diri relawan
-    Menentukan sikap tim relawan apakah condong kepada altruisme atau fokus pada tujuan professional
-    Menjaga kesehatan mental dan kebersihan dari relawan
-    Menyeimbangkan antara relawan yang profesional dengan relawan volunteer yang belum terlatih
c.    Relawan – masyarakat (makro)
-    Menentukan batasan tugas dalam menanggapi respons terhadap bencana
-    Menjaga integritas dalam bekerja secara sukarela di tengah masyarakat yang acuh
-    Menghalangi perusahaan komersil yang membantu, tetapi juga mengekploitasi korban bencana
-    Memastikan keadilan dan meminimalisasikan konflik pada masyarakat   
-    Transparansi triase

Pedoman pengambilan keputusan relawan berdasarkan ICRC (International Committee of Red Cross) yang berisi:4
a.    Prioritaskan kepentingan kemanusiaan
b.    Pertolongan tidak berdasarkan SARA
c.    Pertolongan bukan karena peraturan pemerintah
d.    Hargai budaya setempat
e.    Sebisa mungkin mencakup keseluruhan masyarakat
f.    Korban bukan hanya objek semata
g.    Pertolongan sampai tahap mengurangi kerentanan   
Adanya kepercayaan baik oleh korban maupun relawan

E-Health

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Perkembangan teknologi computer (informasi) yang begitu pesat telah merambah ke berbagai sektor termasuk kesehatan. Meskipun dunia kesehatan (dan medis) merupakan bidang yang bersifat information-intensive, akan tetapi adopsi teknologi komputer relatif tertinggal. Sebagai contoh, ketika transaksi finansial secara elektronik sudah menjadi salah satu prosedur standar dalam dunia perbankan, sebagian besar rumah sakit di Indonesia baru dalam tahap perencanaan pengembangan billing system. Meskipun rumah sakit dikenal sebagai organisasi yang padat modal-padat karya, tetapi investasi teknologi informasi masih merupakan bagian kecil. Di AS, negara yang relatif maju baik dari sisi anggaran kesehatan maupun teknologi informasi komputer, rumah sakit rata-rata hanya menginvestasinya 2% untuk teknologi informasi.
Di sisi yang lain, masyarakat menyadari bahwa teknologi komputer merupakan salah satu tool penting dalam peradaban manusia untuk mengatasi (sebagian) masalah derasnya arus informasi. Teknologi informasi dan komunikasi komputer saat ini adalah bagian penting dalam manajemen informasi. Di dunia medis, dengan perkembangan pengetahuan yang begitu cepat (kurang lebih 750.000 artikel terbaru di jurnal kedokteran dipublikasikan tiap tahun), dokter akan cepat tertinggal jika tidak memanfaatkan berbagai tool untuk mengudapte perkembangan terbaru.
Selain memiliki potensi dalam memfilter data dan mengolah menjadi informasi, TI mampu menyimpannya dengan jumlah kapasitas jauh lebih banyak dari cara-cara manual. Konvergensi dengan teknologi komunikasi juga memungkinkan data kesehatan di-share secara mudah dan cepat. Disamping itu, teknologi memiliki karakteristik perkembangan yang sangat cepat. Setiap dua tahun, akan muncul produk baru dengan kemampuan pengolahan yang dua kali lebih cepat dan kapasitas penyimpanan dua kali lebih besar serta berbagai aplikasi inovatif terbaru.
Pelayanan kesehatan berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK) komputer, atau yang biasa disebut sebagai e-Health, tengah mendapat banyak perhatian dunia. Terutama disebabkan oleh janji dan peluang bahwa teknologi mampu meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Tulisan ini mencoba mengulas bagaimana sebenarnya e-Health tersebut dan bagaimana implikasi teknologi dalam meningkatkan pelayanan kesehatan.

B.    RUMUSAN MASALAH
1.    Apa yang dimaksud dengan e-Health?
2.    Apa manfaat dari penggunaan e-Health?
3.    Apa saja bentuk-bentuk e-Health?
4.    Apa saja arsitektur dari e-Health?
5.    Apa peranan dari e-Health?

C.    TUJUAN
1.    Untuk mengetahui pengertian e-Health.
2.    Untuk mengetahui manfaat dari e-Health.
3.    Untuk mengetahui bentuk-bentuk dari e-Health.
4.    Untuk mengetahui arsitektur dari e-Health.
5.    Untuk mengetahui peranan dari e-Health.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN
Ehealth (juga ditulis e-health) adalah istilah yang relatif baru untuk latihan kesehatan yang didukung oleh proses elektronik dan komunikasi, dating kembali ke setidaknya 1999. Penggunaan istilah ini bervariasi: beberapa akan berpendapat itu dipertukarkan dengan informasi kesehatan dengan Definisi yang luas mencakup elektronik / proses digital di bidang kesehatan, sedangkan yang lain menggunakannya dalam arti sempit praktik kesehatan menggunakan internet. 

E-Health adalah efektif dan aman menggunakan biaya dan komunikasi teknologi informasi dalam mendukung kesehatan dan berhubungan dengan bidang kesehatan, termasuk perawatan pelayanan kesehatan, pengawasan kesehatan, literatur kesehatan, dan pendidikan kesehatan, pengetahuan dan penelitian (WHO).
  E-kesehatan merupakan bidang yang muncul dari informatika medis, mengacu pada organisasi dan pelayanan kesehatan dan informasi menggunakan internet dan teknologi yang terkait. Dalam arti yang lebih luas, istilah itu ciri tidak hanya pengembangan teknis, tetapi juga cara baru kerja, sikap, dan komitmen untuk jaringan, berpikir global, untuk meningkatkan pelayanan kesehatan lokal, regional, dan di seluruh dunia dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. (Eysenbach, 2001).


B.    MANFAAT
e-Health ini diharapkan dapat meningkatkan berbagai aspek kesehatan (kualitas, efisiensi biaya, akses) oleh:
1)      Mendukung pemberian pelayanan yang disesuaikan dengan pasien individu, di mana TIK memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih baik berdasarkan data bukti dan pasien-spesifik;
2)      Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas proses perawatan dan memfasilitasi perawatan bersama melintasi batas;
3)      Membantu praktik berbasis bukti dan pengurangan kesalahan;
4)      Meningkatkan akurasi diagnostik dan kesesuaian pengobatan;
5)    Meningkatkan akses terhadap kesehatan yang efektif dengan mengurangi hambatan yang diciptakan, misalnya, dengan lokasi fisik atau kecacatan; 
6)     Memfasilitasi pemberdayaan pasien untuk perawatan diri dan pengambilan keputusan kesehatan;
7)    Meningkatkan efisiensi biaya melalui penyederhanaan proses, mengurangi waktu menunggu dan limbah.



C.    BENTUK-BENTUK E-HEALTH

Istilah ini dapat mencakup berbagai layanan atau sistem yang berada di tepi obat / kesehatan dan informasi teknologi, termasuk:
1)  Elektronik kesehatan catatan : memungkinkan komunikasi data pasien antara profesional kesehatan yang berbeda (dokter, spesialis dll);
2)   Telemedicine : perawatan fisik dan psikologis di kejauhan;
3)   Konsumen kesehatan informatika : pemanfaatan sumber daya elektronik pada topik medis oleh individu yang sehat atau pasien;
4)   Kesehatan manajemen pengetahuan : misalnya dalam sebuah gambaran jurnal medis terbaru, pedoman praktek terbaik atau pelacakan epidemiologi (contoh termasuk sumber daya dokter seperti Medscape dan MDLinx );
5)  Virtual tim kesehatan: terdiri dari profesional kesehatan yang berkolaborasi dan berbagi informasi mengenai pasien melalui peralatan digital (untuk perawatan transmural );
6)  mHealth atau m-Kesehatan : mencakup penggunaan perangkat bergerak dalam pengumpulan data dan tingkat kesehatan pasien agregat, memberikan informasi kesehatan untuk praktisi, peneliti, dan pasien,-time monitoring nyata tanda-tanda vital pasien, dan penyediaan pelayanan langsung (melalui telemedicine mobile) ;
7)  Penelitian medis menggunakan Grids : komputasi yang kuat dan manajemen data kemampuan untuk menangani data dalam jumlah besar heterogen.
8)  Sistem Informasi Kesehatan : juga sering merujuk ke solusi perangkat lunak untuk penjadwalan pengangkatan, pasien pengelolaan data, pengelolaan jadwal kerja dan tugas-tugas administrasi lainnya sekitarnya kesehatan.

D.    ARSITEKTUR APLIKASI E-HEALTH

Gambar berikut ini adalah arsitektur jaringan e-Health, dimana arsitektur jaringan e-Health terdiri dari 3 lapis yaitu :
• EIS Tier yang merupakan repository data (EMR),
• Middle Tier yang terdiri Application Server dan Web Server. Pada middle tier ini, eHealth menggunakan Enterprise Application Integrator.
• Client Tier, merupakan lapisan yang berhubungan langsung dengan user. 
Dalam dunia kesehatan, broadband bukanlah suatu obat mujarab. Namun, broadband sebagai infrastruktur penyedia koneksi data berkecepatan tinggi bila digabung, dikembangkan dan dikemas bersama elemen lainnya seperti teknologi informasi serta teknologi robotik canggih maka menjadi satu kesatuan yang biasanya disebut e-health. E-health adalah solusi penting dalam meningkatkan layanan kesehatan sekaligus dapat menghemat biaya serta memperluas jangkauan layanan kesehatan. Selain itu, inovasi dalam dunia kesehatan melalu e-health dapat menciptakan lapangan kerja baru serta meningkatkan daya saing global suatu negara.
Berikut di bawah adalah 10 applikasi broadband dalam dunia kesehatan yang selain dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan juga dapat menekan biaya yang dibutuhkan:
 
1.   Telesurgery – Juga disebut Remote Surgery memungkinkan para dokter untuk melakukan proses pengamatan, konsultasi bahkan bedah pada pasien tanpa mereka harus secara fisik berada di lokasi yang sama. Telesurgery memungkinkan setiap orang untuk mendapatkan jasa layanan dokter bedah terampil terbaik dari mana saja, bahkan dari seluruh dunia. Sang pasien hanya butuh melakukan perjalanan ke rumah sakit setempat saja.
Di bulan September tahun 2001 para ilmuwan dan dokter ahli bedah Perancis di Strasbourg dan Amerika di New York yang berjarak sekitar 6.230 km berhasil melakukan bedah pengangkatan empedu seorang wanita berusia 68 tahun dengan menggunakan remote control.

2.   Teleradiology – Kebutuhan ahli radiologist semakin hari semakin meningkat, apalagi untuk daerah terpencil. Teleradiology memungkinkan hasil MRI, CAT scan, dan X-ray untuk diperiksa oleh pakar dari seluruh dunia selama 24 jam sehari. Hasil tes ini terdiri dari serangkaian gambar dengan resolusi tinggi yang menunjukkan apa yang terjadi dalam tubuh pasien dan membutuhkan jaringan Internet kecepatan tinggi dan aman untuk transfer gambar.
Salah satu cerita sukses applikasi teleradiology adalah selama operasi ARCHER yang dimulai pada bulan Juli 2005 dimana pemerintah Kanada berkomitmen dalam menyediakan layanan kesehatan termasuk radiology bagi seluruh anggota koalisi yang terlibat dalam misi pembebasan Afghanistan.

3.   Remote Examinations – Apakah di fasilitas medis, di rumah, di luar atau dimana saja, melalui broadband dokter dapat memeriksa pasien di mana saja melalui konferensi video dan dibanu oleh alat diagnostik terpadu. Dengan cara ini dokter dapat memeriksa pasien segera setelah cedera terjadi. Psikolog dapat melakukan pemeriksaan psikologis pada narapidana penjara tanpa harus memindahkan mereka dari sel, dan banyak lagi applikasi lainnya. Semua ini menggunakan broadband untuk memberdayakan komunikasi dua arah menggunakan konferensi video berkualitas tinggi.
Contoh cerita sukses applikasi remote examinations pertama kali diluncurkan di Kanada adalah pada tahun 2006 dimana seorang pasien yang bertempat tinggal di Cochrane, Ontario harus menjalani rawat jalan intensif sebanyak 1 atau 2 kali seminggu ke Toronto yang berjarak kurang lebih 1.400 km (pulang pergi) untuk penyakit leukimia yang dideritanya setelah menjalani operasi bone marrow (sumsum tulang belakang). Remote examination memanfaatkan jaringan kecepatan tinggi konferensi video dua arah dengan menggunakan peralatan seperti digital stethoscope dan kamera hand-held sebagai media interaksi antara pasien dengan dokter ahli dari jarak jauh.

4.   Patient Monitoring – Broadband juga dapat dimanfaatkan untuk mengawasi pasien sakit tanpa harus secara fisik berada di sisi mereka setiap saat. Robot dapat memonitor pasien yang menjalani perawatan intensif (ICU), fasilitas panti jompo dan asuhan kini dapat saling berbagi personil yang senantiasa siaga 24 jam dalam melakuan pengawasan dan selain lebih efektif juga lebih efisisen dalam penghematan biaya, serta pasien yang tidak dapat turun ranjang juga dapat dimonitor sepanjang waktu. Semua ini hanya dimungkinkan dengan adanya broadband kecepatan tinggi dan tersebar.
Beberapa cerita sukses yang telah diimplementasikan oleh pemerintah Kanada adalah telehomecare/ telemedicine dimana penduduk di daerah terpencil dapat menikmati peningkatan dalam akses maupun kualitas layanan kesehatan.

5.   Patient/ Family Communication – Sebelumnya, pasien sakit yang berada di rumah sakit (atau di rumah) hanya dapat saling berhubungan dengan sanak keluarga maupun teman yang tinggal jauh melalui telepon, dan televisi untuk tetap mengikuti perkembangan di dunia luar. Sekarang, dengan memanfaatkan broadband, tidak saja mereka memiliki akses cepat ke berita dunia, mereka juga dapat berkomunikasi tatap muka dengan orang yang dicintai melalui konferensi video.

6.   EMRs (Electronic Medical Records) – Dengan menggantikan catatan medis pasien yang masih berbasis kertas (cara tradisional) dengan catatan elektronik memungkinkan dokter untuk selalu memiliki akses ke semua data medis pasien mereka, termasuk sejarah perawatan, hasil lab, jenis alergi yang diderita, dan banyak lagi. Kini tidak ada lagi istilah menunggu karena catatan kertas, hasil scan, dan lainnya masih harus dikirim melalui pos atau fax. Tidak ada lagi  informasi atau halaman yang hilang atau rusak. EMR juga mencakup fitur-fitur canggih seperti cek otomatis interaksi obat untuk memastikan dokter yang berbeda tidak memberikan resep obat yang saling bertentangan.

7.   Personal Health Records – Atau catatan pribadi kesehatan adalah bagian dari EMRs. Catatan yang berupa informasi medis, termasuk status, hasil pemeriksaan, diagnosis maupun tes paling akhir dapat diakses pasien dari mana saja. Catatan kesehatan pribadi juga mencakup beberapa fitur tambahan seperti catatan rasa sakit, diet makanan, gejala, pustaka informasi medis yang relevan, rekomendasi latihan, dan banyak lagi. Semua data pasien dapat diakses oleh dokter mereka dalam membantu mendapatkan diagnosis yang lebih tepat.

8.   Video Translator Network – Adalah jaringan jasa penerjemah yang saat ini sebagian besar masih terbatas pada penggunaan telepon, tetapi dengan tersedianya layanan broadband maka konferensi video dua arah kualitas tinggi dapat meningkatkan serta membantu komunikasi pasien di ruang gawat darurat khususnya dan di rumah sakit pada umumnya. Dengan memanfaatkan broadband, pasien, dokter, dan penerjemah dapat bertemu secara bersamaan sehingga  memungkinkan komunikasi yang lebih baik antara orang-orang yang berbicara bahasa yang berbeda.

9.   Doctor Social Networks – Seperti halnya Facebook, Twitter, dan jaringan sosial lainnya, jaringan sosial khusus untuk para dokter dapat menghubungkan mereka dengan rekan-rekan dokter lainnya di seluruh dunia dan dapat membantu para dokter agar tetap up-to-date dengan kemajuan medis dan teknik terbaru dalam dunia medis. Teknologi jaringan sosial yang sama juga dapat digunakan untuk menyatukan perawat, petugas rumah sakit, dan profesional medis lainnya. Berikut beberapa contoh jaringan sosial khusus untuk para dokter.

10.   Patient Social Networks – Jaringan sosial pasien juga ada dalam bentuk kelompok/ group di mana orang yang menderita penyakit yang sama bisa merasakan kebersamaan, saling berbagi cerita, dan saling mendukung. Broadband memungkinkan kelompok-kelompok pasien sesama penderita saling mendukung secara online. Teknologi jaringan sosial mampu memberi pasien akses ke lebih banyak sesama penderita, dipakai sebagai media untuk berbagi cerita dan belajar dari yang lain, dan yang paling penting adalah kemampuan sang pasien untuk berpartisipasi dalam kelompok tersebut bahkan jika mereka tidak mampu secara fisik bergerak dari kamar mereka. Dalam hal ini, broadband telah membantu pasien merasa lebih didukung, percaya diri dan bersemangat untuk sembuh dan hal ini dengan sendirinya memperkuat kondisi mental mereka dan sering sembuh lebih cepat.
Broadband dalam dunia kesehatan merupakan solusi tepat dalam mengatasi hambatan geografis, kurangnya infrastruktur transportasi, dan kesenjangan sosial ekonomi. Teknologi e-health/ telehealth/ telecare memungkinkan konsultasi perawatan klinis, pendidikan yang berkesinambungan bagi para profesional medis dan peningkatan manajemen pelayanan kesehatan di manapun mereka berada. Secara keseluruhan, teknologi ini memungkinkan suatu bangsa meninggalkan warisan sehat baik dalam peningkatan mutu layanan, akses, produktivitas dan keamanan dalam pemberian layanan kesehatan bagi seluruh rakyatnya di manapun mereka berada.

E.    PERANAN E-HEALTH
Di seluruh dunia, terjadi peningkatan biaya pelayanan kesehatan. Banyak orang tidak mendapat kesempatan bagi pelayanan kesehatan yang lebih baik. Catatan kesehatan yang masih mengandalkan dokumen kertas banyak menimbulkan kesalahan dan mengurangi produktivitas layanan.
Walau demikian, patut diakui terdapat juga kenaikan pelayanan kesehatan di masyarakat, yang memberikan peluang kehidupan yang lebih baik, namun juga berarti terdapatkan golongan masyarakat manula (manusia usia lanjut) yang lebih besar. Pada umumnya manula juga memerlukan layanan kesehatan yang lebih besar dibandingkan usia produktif.
Bagi pemerintah di tingkat lokal maupun pusat juga mendapat tantangan untuk menanggulangi meningkatkan biaya pelayanan kesehatan, meningkatkan akses dan kualitas pelayanan. Selain itu, mereka juga bertanggungjawab terhadap pemantauan kesehatan umum dan kemungkinan penyebaran penyakit menular tertentu. Mengembangkan layanan e-Health akan membantu pihak-pihak penyedia layanan kesehatan termasuk pemerintah untuk mencapai hal tersebut di atas. E-Health akan memberikan kesempatan kepada semua pihak untuk melakukan kolaborasi, pengumpulan dan analisa data kesehatan yang melampaui batasan fisik dan waktu.
Sebagai contoh, e-Health dapat diterapkan untuk membantu pemerintah mengembangkan program yang membantu dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya saling bertukar infomasi secara elektronik, mengambil data rekam medis pasien kapan dan dimana diperlukan, dan melakukan kolaborasi dengan memberi layanan jasa kesehatan lainnya secara real time melalui internet. Layanan kesehatan seperti ini akan memberikan banyak sekali penghematan dari sisi biaya dokumen dan administrasi layanan dan memberikan keuntungan pemberian keputusan layanan kesehatan yang terbaik kepada pasien dengan lebih cepat.


BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Selain pendidikan, kesehatan merupakan sektor yang perlu menjadi perhatian penting dan disentuh oleh implementasi TIK yang sesuai kebutuhan agar dapat memberikan nilai tambah bagi pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Pada sesi ini akan dibahas berkaitan dengan roadmap e-Health Indonesia dan peran berbagai pihak seperti pemerintah, IDI, asosiasi rumah sakit, farmasi serta pihak lain yang terkait dan berperan dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang sehat dan kuat.



DAFTAR PUSTAKA

http://en.wikipedia.org/wiki/Remote_surgery
http://www.switched.com/2009/04/09/worlds-first-3-d-hdtv-remote-surgery-system-allows-fantastic-pr/
http://www.broadband.gov/plan/10-healthcare/
http://www.alcatel-lucent.com/enrich/v1i22007/article_c2a1.html 
http://karebostyle.blogspot.com/2012/04/e-health-dan-e-mental-health.html



Pengelolaan Bencana dan Rapid Need Health Assessment

NAMA KELOMPOK    :
1.    DEAN PATRIC DAMANIK
2.    FERA ROSMALIA
PRODI            : IKM A NON REGLER
M. KULIAH            : MANAGEMEN BENCANA

1.    Jelaskan langkah-langkah pengelolaan bencana pada siklus bencana sesuai teori dan kasus!
Setiap bencana umumnya memiliki pola dalam perkembangannya. Pola ini sering terjadi berulang di alam. Pola yang teridentifiksi ini dinamakan Disaster Cycle atau Disaster Life Cycle. Dalam disaster cycle terangkum strruktur terorganisir untuk perencanaan, tanggapan, dan penelitian mengenai konsep kejadian bencana. Siklus bencana itu sendiri bisa berbeda-beda bergantung pada peneliti, tetapi pada dasarnya terdapat tiga fase yang umum pada setiap siklus.  Tiga tahap tersebut yaitu  “preimpact,” “transimpact,” dan “postimpact” atau disebut pula “kesiapsiagaan” ,” “tanggap darurat,” and “pemulihan bencana” (Koenig : 2010).

   

Pengelolaan bencana terbagi ke dalam tiga tahap umum yaitu, tahap pencegahan, tahap respon bencana, dan tahap rehabilitasi
a.       Tahap pencegahan :
o   Early detection (deteksi dini) adalahupayapenyusunan rencana tanggap darurat bencana
o   Mitigasi yaitu upaya yang dilakukan untuk mengurangi dampak bencana baik secara fisik struktural melalui pembuatan bangunan bangunan fisik maupun non fisik struktural melalui perundang- undangan dan pelatihan
o   Early warning (peringatan dini) adalah upaya untuk memberikan tanda peringatan bahwa kemungkinan bencana akan segera terjadi, yang menjangkau  masyarakat (accesible), segera (immediate), tegas tidak membingungkan (coherent), dan resmi (official)
o   Evacuation (Evakuasi)memindahkan korban ke lingkungan yang lebih aman dan nyaman untuk mendapatkan pertolongan medis lebih lanjut
b.      Tahap respon bencana :
o   Rapid assesment and rapid respons adalah upaya yang dilakukan segera pada saat kejadian bencana, untuk menanggulangi dampak yang ditimbulkan, terutama berupa  penyelamatan korban dan harta benda, evakuasi dan pengungsian
o   Triage adalah proses khusus memilih korban berdasarkan beratnya cedera atau penyakit untuk menentukan prioritas perawatan gawat darurat medik serta prioritas transportasi
o   first treatment adalah pertolongan pertama yang diberikan pada korban bencana, baik dilakukan oleh orang biasa maupun paramedis.
c.       Tahap rehabilitasi :
o   Pembangunan sarana dan prasarana dasar
o   Pembangunan sarana sosial masyarakat
o   Membantu masyarakat memperbaiki rumah
o   Pemulihan kegiatan bisnis dan ekonomi
·    Pemulihan psikologis korban yang mengalami trauma

2.    Jelaskan mengenai tahapan pada setiap siklus bencana!


I. PRA BENCANA
a.      Pencegahan dan Mitigasi
Mitigasi adalah serangkaian upaya pencegahan yang dilakukan bertujuan untuk menghindari terjadinya bencana serta mengurangi risiko yang ditimbulkan oleh bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana (UU No 24/2007). Tindakan mitigasi dilihat dari sifatnya dapat digolongkan menjadi 2 bagian, yaitu mitigasi pasif dan mitigasi aktif. Menurut (PBNPB No 4/2008):

Adakalanya kegiatan mitigasi ini digolongkan menjadi mitigasi yang bersifat non-struktural, berupa peraturan, penyuluhan, pendidikan, dan yang bersifat struktural berupa bangunan dan prasarana.

b.      Kesiapsiagaan
Menurut UU RI No.24 Tahun 2007, kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna.Kegiatan kesiapsiagaan secara umum adalah:

II. SAAT BENCANA
a.      Tanggap Bencana
Serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan. Penyelenggaraan penanggulangan bencana pada saat tanggap darurat meliputi (PBNPB No 4/2008):

III. PASCA BENCANA
a.    Pemulihan/Recovery:
Dalam penanggulangan Pasca bencana, terdapat langkah-langkah yang harus dilakukan antara lain :
·      Rehabilitasi dan Rekonstrusi
·      Pembangunan sarana dan prasarana dasar (jalan, listrik, air bersih, dll);
·      Pembangunan sarana sosial masyarakat (masjid, gereja, pura, balai adat, dll);
·      Membantu masyarakat memperbaiki rumah;
·      Pemulihan kegiatan bisnis dan ekonomi.

Pemulihan (recovery) adalah proses pemulihan kondisi masyarakat yang terkena bencana, dengan memfungsikan kembali sarana dan prasarana pada keadaan semula dengan melakukan upaya rehabilitasi dan rekonstruksi.
Rehabilitasi (rehabilitation) adalah upaya yang diambil setelah kejadian bencana untuk membantu masyarakat memperbaiki rumah, fasilitas umum dan fasilitas sosial serta, dan menghidupkan kembali roda perekonomian.
Rekonstruksi (reconstruction) adalah program jangka menengah dan yang jangka panjang meliputi perbaikan fisik, sosial dan ekonomi untuk mengembalikan kehidupan masyarakat pada kondisi yang sama atau lebih baik dari sebelumnya.

3.    Jelaskan mengenai rapid need health assessment  
Rapid need health assessment adalah sebuah pedoman yang dirancang untuk secara cepat menyediakan informasi berbasis populasi yang akurat dan murah tentang kebutuhan suatu komunitas setelah terjadinya bencana. Informasi yang disediakan dibutuhkan untuk menyesuaikan kebutuhan emergensi suatu komunitas dengan sumberdaya yang tersedia sehingga perkiraan kebutuhan secara dini dikombinasikan dengan mobilisasi yang cepat dari sumberdaya mampu secara signifikan mengurangi bahaya kesehatan masyarakat sebagai konsekuensi yang ditimbulkan oleh suatu bencana. Ada beberapa poin yang penting mengenai rapid need health assessment, yaitu:
Dalam melaksanakan pedoman rapid need health assessment ini sangat penting sekali untuk memastikan sampel populasi masyarakat yang disurvei, hal ini ditujukan untuk memastikan penilaian kebutuhan sesuai dengan keadaan emergensi, karena dalam kondisi emergensi penilaian kebutuhan memiliki dua fungsi utama. Pertama, hal tersebut akan menginformasikan prioritas respond an rencana masyarakat. Kalian dapat mendukung pemenuhan sumberdaya yang dibutuhkan bagi masyarakat. Penilaian kebutuhan dalam kondisi bencana sendiri harus memastikan adanya ketersediaan basic life support needs, perlindungan korban, dan kebutuhan psikologi-sosial

Bencana dan Siklus Bencana Secara Teori, Jenis, Kajian Ancaman, Serta Risiko Bencana

NAMA KELOMPOK    :
1.    DEAN PATRIC DAMANIK
2.    FERA ROSMALIA
PRODI                : IKM A NON REGULER
M. KULIAH        : MANAGEMEN BENCANA
DOSEN               : WULAN SARI

1.    Jelaskan pengertian bencana dan siklus bencana secara teori dan kasus !
Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Definisi tersebut menyebutkan bahwa bencana disebabkan oleh faktor alam, non alam, dan manusia. Oleh karena itu, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tersebut juga mendefinisikan mengenai bencana alam, bencana nonalam, dan bencana sosial.
Bencana Gunung meletus  adalah bencana yang terjadi akibat endapan magma di dalam perut bumi yang didorong keluar oleh gas yang bertekanan tinggi. Dari letusan-letusan seperti inilah gunung berapi terbentuk. Letusannya yang membawa abu dan batu menyembur dengan keras sejauh radius 18 km atau lebih, sedang lavanya bisa membanjiri daerah sejauh radius 90 km. Letusan gunung berapi bisa menimbulkan korban jiwa dan harta benda yang besar sampai ribuan kilometer jauhnya dan bahkan bias mempengaruhi putaran iklim di bumi ini. Hasil letusan gunung berapi berupa:
·    Gas Vulkanik
·    Lava dan Aliran Pasir serta Batu Panas
·    Lahar
·    Abu Letusan
·    Awan Panas (Piroklastik)
Siklus manajemen bencana yang terdiri komponen mitigasi (mitigation), kesiapsiagaan (preparedness), respon (response/tanggap darurat), recovery (pemulihan) yang di perlu lakukan secara utuh. Untuk lebih jelas akan dibahas keempat fase siklus manajemen bencana tersebut sebagai berikut:
Fase pertama, mitigasi: upaya untuk memperkecil dampak dari bencana, meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat. Ada 2 bentuk mitigasi yang lazim dilakukan yaitu mitigasi struktural dan mitigasi non struktural. (1) Mitigasi struktural merupakan upaya PRB dengan cara membangun lingkungan fisik dengan menggunakan rekayasa struktur, seperti pembangunan bangunan tahan gempa, pengendalian lingkungan dengan pembuatan kanal banjir, drainase, dan terasering. (2) Mitigasi non-struktural adalah upaya PRB dengan cara merubah prilaku  manusia atau proses alamiah, seperti penyusunan kebijakan, peraturan perundang-undangan, PRB, pendidikan, dan penyadaran masyarakat, modifikasi non-struktural, perubahan perilaku masyarakat.
Fase kedua, kesiapsiagaan: Merencanakan bagaimana menanggapi bencana dilakukan dalam fase ini. Hal tersebut meliputi: Merencanakan kesiapsiagaan, penilaian kerentanan, kelembagaan, Sistem informasi, basis sumberdaya, membangun sekolah siaga bencana, memasukkkan unsur PRB dalam kurikulum sekolah, Sistem peringatan dini, mekanisme tanggap, pendidikan public dan pelatihan, kesiapan logistic, membuat rencana kontijensi, kemudian diuji coba kesiapsiagaan terhadap bencana.
Fase ketiga, Respon: Upaya memperkecil kerusakan yang disebabkan oleh bencana, Pencarian dan penyelamatan korban diantaranya: Triage korban bencana dan pemilahan korban, pemeriksaan kesehatan, dan mempersiapkan korban untuk tindakan rujukan. Selain itu juga memfungsikan pos kesehatan lapangan (rumah sakit lapangan), mendistribusikan logistik (obat-obatan, gizi, air bersih, sembako), menyediakan tempat tinggal sementara dan penanganan pos traumatic stress.
Fase keempat, Recovery: tindakan mengembalikan masyarakat ke kondisi normal. Peristiwa ini menfokuskan pada perbaikan sarana dan prasarana, yaitu: rehabilitasi dan rekonstruksi. Adapun rehabilitasi merupakan upaya untuk membantu komunitas memperbaiki rumahnya, mengembalikan fungsi pelayanan umum, perbaikan sarana transportasi, komunikasi, listrik, air bersih dan sanitasi, dan pelayanan pemulihan kesehatan. Selanjutnya rekonstruksi merupakan upaya jangka menengah dan jangka panjang seperti pembangunan kembali sarana dan prasarana, serta pemantapan kemampuan institusi pemerintah, sehingga terjadinya perbaikan fisik, social dan ekonomi untuk mengembalikan kehidupan komunitas pada kondisi yang sama atau lebih baik dari sebelumnya.
Dari latar belakang tentang bencana alam di Indonesia, mitigasi bencana merupakan langkah yang sangat perlu dilakukan sebagai suatu titik tolak utama dari manajemen bencana. Sesuai dengan tujuan utamanya yaitu mengurangi dan / atau meniadakan korban dan kerugian yang mungkin timbul, maka titik berat perlu diberikan pada tahap sebelum terjadinya bencana, yaitu terutama kegiatan penjinakan / peredaman atau dikenal dengan istilah Mitigasi.
Mitigasi:
·    Mitigasi struktural, berupa bangunan-bangunan fisik yang sifatnya untuk mencegah atau mengurangi dampak dari suatu ancaman gunung api. Perlu diperhatikan bahwa mitigasi yang dilakukan harus sesuai dengan konteks ancaman, contohnya: pembangunan dam di sungai-sungai yang berada di bagian bawah untuk tujuan memitigasi ancaman lahar dingin, memasang alat peringatan dini, alat pemantauan gunung api.
·    Mitigasi non struktural, adalah upaya-upaya yang dilakukan di masyarakat untuk mengurangi kerentanan-kerentanan dan meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengurangi risiko bencana, contohnya: pelatihan kebencanaan, pelatihan penanggulangan penderita gawat darurat (PPGD) dll.
Upaya memperkecil jumlah korban jiwa dan kerugian harta benda akibat letusan gunung berapi, tindakan yang perlu dilakukan :
a.       Pemantauan, aktivitas gunung api dipantau selama 24 jam menggunakan alat pencatat gempa (seismograf). Data harian hasil pemantauan dilaporkan ke kantor Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG) di Bandung dengan menggunakan radio komunikasi SSB. Petugas pos pengamatan Gunung berapi menyampaikan laporan bulanan ke pemda setempat.

b.      Tanggap Darurat, tindakan yang dilakukan oleh DVMBG ketika terjadi peningkatan aktivitas gunung berapi, antara lain mengevaluasi laporan dan data, membentuk tim Tanggap Darurat, mengirimkan tim ke lokasi, melakukan pemeriksaan secara terpadu.

c.       Pemetaan, Peta Kawasan Rawan Bencana Gunung berapi dapat menjelaskan jenis dan sifat bahaya gunung berapi, daerah rawan bencana, arah penyelamatan diri, lokasi pengungsian, dan pos penanggulangan bencana.

d.      Penyelidikan gunung berapi menggunakan metoda Geologi, Geofisika, dan Geokimia. Hasil penyelidikan ditampilkan dalam bentuk buku, peta dan dokumen lainya.

e.       Sosialisasi, petugas melakukan sosialisasi kepada Pemerintah Daerah serta masyarakat terutama yang tinggal di sekitar gunung berapi. Bentuk sosialisasi dapat berupa pengiriman informasi kepada Pemda dan penyuluhan langsung kepada masyarakat
Tindakan kesiapsiagaan menghadapi bencana gunung berapi
Untuk menghindari terjadinya korban jiwa dari letusan gunung berapi ini diperlukan tindakan kesiapsiagaan dalam menghadapi letusan gunung berapi. Tindakan yang harus dilakukan dibagi menjadi 3 tindakan utama yaitu ; tindakan persiapan, tindakan saat terjadi letusan, tindakan pasca letusan
A. Tindakan Persiapan sebelum terjadi letusan gunung api
Beberapa persiapan yang harus dilakukan dalam menghadapi letusan gunung api antara lain :
1.    Mengenali tanda-tanda bencana, karakter gunung api dan ancaman- ancamannya;
2.    Membuat peta ancaman, mengenali daerah ancaman, daerah aman;
3.    Membuat sistem peringatan dini;
4.    Mengembangkan Radio komunitas untuk penyebarluasan informasi status gunung api;
5.    Mencermati dan memahami Peta Kawasan Rawan gunung api yang diterbitkan oleh instansi berwenang;
6.    Membuat perencanaan penanganan bencana;
7.    Mempersiapkan jalur dan tempat pengungsian yang sudah siap dengan bahan kebutuhan dasar (air, jamban, makanan, pertolongan pertama) jika diperlukan;
8.    Mempersiapkan kebutuhan dasar dan dokumen penting
9.    Memantau informasi yang diberikan oleh Pos Pengamatan gunung api (dikoordinasi oleh Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi). Pos pengamatan gunung api biasanya mengkomunikasikan perkembangan status gunung api lewat radio komunikasi.
10.    .Cari tahu tentang system pengamanan di komunitas daerah masing‐masing serta bagan alur keadaan darurat.
11.    Waspadai mengenai bahaya yang menyertai letusan gunungapi yaitu :
Ø  Lahar dan banjir bandang.
Ø  Longsor dan hujan batu (material gunung api).
Ø  Earthquake.
Ø  Hujan abu dan hujan asam.
Ø  Tsunami
12.    Lakukan rencana evakuasi.
13.    Apabila anda tinggal di daerah rawan bencana gunung api, harus ingat rute mana yang aman untuk dilalui.
14.    Bentuk komunitas bahaya bencana gunungapi.
15.    Apabila anggota keluarga tidak berkumpul ketika terjadi letusan (misalnya yang dewasa sedang bekerja dan anak‐anak sedang sekolah) usahakan untuk berkumpul dalam keluarga jangan terpisah.
16.    Mintalah keluarga yang tinggal berjauhan untuk saling mengontak sebagai ‘hubungan keluarga’ sebab sehabis terjadi bencana biasanya lebih mudah untuk kontak jarak jauh. Tiap anggota keluarga usahakan untuk mengetahui nama, alamat dan nomor telepon anggota keluarga yang lain.
17.    Buatlah persediaan perlengkapan darurat seperti :
Ø  Batere/ senter dan extra batu batere.
Ø  Obat‐obatan untuk pertolongan pertama.
Ø  Makanan dan air minum untuk keadaan darurat.
Ø  Pembuka kaleng.
Ø  Masker debu.
Ø  Sepatu boot.
18.    Pakailah kacamata dan gunakan masker apabila terjadi hujan abu.
19.    Hubungi pihak‐pihak yang berwenang mengenai penanggulangan bencana.
20.    Walaupun tampaknya lebih aman untuk tinggal di dalam rumah sampai gunungapi  berhenti meletus, tapi apabila anda tinggal di daerah rawan bahaya gunung api akan sangat berbahaya.
21.    Patuhi instruksi yang berwenang dan lakukan secepatnya


2.    Jelaskan berbagai jenis bencana dan kaitannya dengan Indonesia dan jelaskan mendalam kasus bencana !
Bencana alam (natural disaster) adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor. Dengan posisi geografis Indonesia yang terletak di ujung pergerakan tiga lempeng dunia: Eurasia, Indo-Australia dan Pasifik, Indonesia memang seringkali menghadapi bencana alam.
·         Gempa bumi adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi yang disebabkan oleh tumbukan antar lempeng bumi, patahan aktif, akitivitas gunung api atau runtuhan batuan. Contohnya adalah gempa bumi 6,5 SR di Jogjakarta pada 25 Januari 2014.
·         Letusan gunung api merupakan bagian dari aktivitas vulkanik yang dikenal dengan istilah erupsi. Bahaya letusan gunung api dapat berupa awan panas, lontaran material (pijar), hujan abu lebat, lava, gas racun, tsunami dan banjir lahar. Contohnya adalah letusan gunung Kelud yang menyebabkan menyebarnya abu vulkanik.
·         Tsunami berasal dari bahasa Jepang yang berarti gelombang ombak lautan (“tsu” berarti lautan, “name” berarti gelombang ombak). Tsunami adalah serangkaian gelombang ombak laut raksasa yang timbul karena adanya pergeseran di dasar laut akibat gempa bumi. Contohnya adalah tsunami di Aceh pada tahun 2004.
·         Kekeringan adalah ketersediaan air yang jauh di bawah kebutuhan air untuk kebutuhan hidup, pertanian, kegiatan ekonomi dan lingkungan. Adapun yang dimaksud kekeringan di bidang pertanian adalah kekeringan yang terjadi di lahan pertanian yang ada tanaman (padi, jagung, kedelai dan lain-lain) yang sedang dibudidayakan .
·         Angin puting beliung adalah angin kencang yang datang secara tiba-tiba, mempunyai pusat, bergerak melingkar menyerupai spiral dengan kecepatan 40-50 km/jam hingga menyentuh permukaan bumi dan akan hilang dalam waktu singkat (3-5 menit).
·         Gelombang pasang atau badai adalah gelombang tinggi yang ditimbulkan karena efek terjadinya siklon tropis di sekitar wilayah Indonesia dan berpotensi kuat menimbulkan bencana alam. Indonesia bukan daerah lintasan siklon tropis tetapi keberadaan siklon tropis akan memberikan pengaruh kuat terjadinya angin kencang, gelombang tinggi disertai hujan deras.
·         Abrasi adalah proses pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak. Abrasi biasanya disebut juga erosi pantai. Kerusakan garis pantai akibat abrasi ini dipicu oleh terganggunya keseimbangan alam daerah pantai tersebut. Walaupun abrasi bisa disebabkan oleh gejala alami, namun manusia sering disebut sebagai penyebab utama abrasi.

-          Bencana nonalam (man-made disaster) adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.
·         Kecelakaan transportasi adalah kecelakaan moda transportasi yang terjadi di darat, laut dan udara. Contohnya adalah kecelakaan lalu lintas antar bus Transjakarta dengan sepeda motor di ITC Permata Hijau, Jakarta dan aircraft crashes (Sukhoi-Gunung Salak-2012, Hercules-Magetan-2009, Mandala-Medan-2005)
·         Kecelakaan industri adalah kecelakaan yang disebabkan oleh dua faktor, yaitu perilaku kerja yang berbahaya (unsafe human act) dan kondisi yang berbahaya (unsafe conditions). Adapun jenis kecelakaan yang terjadi sangat bergantung pada macam industrinya, misalnya bahan dan peralatan kerja yang dipergunakan, proses kerja, kondisi tempat kerja, bahkan pekerja yang terlibat di dalamnya. Contohnya adalah oil spills (pencemaran Laut Timor-2009, Pulau Seribu-2004)
·         Tanah longsor merupakan salah satu jenis gerakan massa tanah atau batuan, ataupun percampuran keduanya, menuruni atau keluar lereng akibat terganggunya kestabilan tanah atau batuan penyusun lereng. Contohnya adalah tanah longsor di Lebak Banten.
·         Banjir adalah peristiwa atau keadaan dimana terendamnya suatu daerah atau daratan karena volume air yang meningkat. Contohnya adalah banjir yang baru saja terjadi di Jakarta.
·         Kebakaran hutan dan lahan adalah suatu keadaan di mana hutan dan lahan dilanda api, sehingga mengakibatkan kerusakan hutan dan lahan yang menimbulkan kerugian ekonomis dan atau nilai lingkungan. Kebakaran hutan dan lahan seringkali menyebabkan bencana asap yang dapat mengganggu aktivitas dan kesehatan masyarakat sekitar.
·         Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu. Status Kejadian Luar Biasa diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 949/MENKES/SK/VII/2004. Contohnya adalah kasus demam berdarah di Madiun yang pada Januari 2010.

3.    Jelaskan kajian ancaman bencana dan risiko bencana serta kerentanan secara umum dan kasus !
Ancaman (hazard) adalah suatu fenomena fisik, fenomena, atau aktivitas manusia yang berpotensi merusak, yang bisa menyebabkan hilangnya nyawa atau cidera, kerusakan harta-benda, gangguan sosial dan ekonomi atau kerusakan lingkungan (ISDR, 2004 dalam MPBI, 2007).
Jenis bahaya / ancaman:
-          Alam : banjir, angin ribut, badai, gempa bumi, gunung meletus, tanah longsor, tsunami
-          Teknologi : bahan-bahan berbahaya, pembangkit tenaga nuklir, pengeboran minyak atau sumber daya mineral
-          Terorisme dan perang : ledakan bom, penggunaan senjata biologis, penggunaan senjata kimia
-          Biologi : pandemik
·         Risiko (risk) adalah probabilitas timbulnya konsekuensi yang merusak atau kerugian yang sudah diperkirakan (hilangnya nyawa, cederanya orang-orang, terganggunya harta benda, penghidupan dan aktivitas ekonomi, atau rusaknya lingkungan) yang diakibatkan oleh adanya interaksi antara bahaya yang ditimbulkan alam atau diakibatkan manusia serta kondisi yang rentan (ISDR, 2004 dalam MPBI, 2007).
Risiko potensial yang dapat terjadi selama proses penanggulangan bencana umumnya dikarenakan fasilitas lokasi yang berdekatan dengan tempat yang beresiko tinggi seperti dekat dengan gunung merapi, dekat dengan sungai, hutan, daerah tersebut tertutupi sahu tebal,dan lain-lain sehingga hal tersebut menyebabkan kekhawatiran untuk terjadinya kejadian pasca bencana
·         Kerentanan (vulnerability) adalah kondisi-kondisi yang ditentukan oleh faktor-faktor atau proses-proses fisik, sosial, ekonomi, dan lingkungan yang meningkatkan kecenderungan (susceptibility) sebuah komunitas terhadap dampak bahaya (ISDR, 2004 dalam MPBI, 2007).  Kerentanan lebih menekankan aspek manusia di tingkat komunitas yang langsung berhadapan dengan ancaman (bahaya) sehingga kerentanan menjadi faktor utama dalam suatu tatanan sosial yang memiliki risiko bencana lebih tinggi apabila tidak di dukung oleh kemampuan (capacity) seperti kurangnya pendidikan dan pengetahuan, kemiskinan, kondisi sosial, dan kelompok rentan yang meliputi lansia, balita, ibu hamil dan cacat fisik atau mental.
1. Kerentanan Fisik : daya tahan menghadapi bahaya tertentu, misalnya: kekuatan bangunan rumah bagi masyarakat yang berada di daerah rawan gempa, adanya tanggul pengaman banjir bagi masyarakat yang tinggal di bantaran sungai dan sebagainya.
2. Kerentanan Ekonomi : masyarakat atau daerah yang miskin atau kurang mampu lebih rentan terhadap bahaya, karena tidak mempunyai kemampuan finansial yang memadai untuk melakukan upaya pencegahan atau mitigasi bencana.
3. Kerentanan Sosial : dari segi pendidikan, kekurangan pengetahuan tentang risiko bahaya dan bencana akan mempertinggi tingkat kerentanan, demikian pula  tingkat kesehatan masyarakat yang rendah juga mengakibatkan rentan menghadapi bahaya.
4. Kerentanan Lingkungan : masyarakat yang tinggal di daerah yang kering dan sulit air akan selalu terancam bahaya kekeringan. Penduduk yang tinggal di lereng bukit atau pegunungan rentan terhadap ancaman bencana tanah longsor dan sebagainya.

Pelayanan Kesehatan Masyarakat

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
      Dalam kehidupaan sehari-hari kita sering menemui pelayanan kesehatan di tempat tertentu, seperti di Pustu, Puskesmas, dan rumah sakit.Pelayanan kesehatan meliputi peningkatan, pencegahan, pengobatan, dan pemulihan, baik pelayanan kesehatan konvensional maupun pelayanan kesehatan yang terdiri dari pengobatan tradisional dan komplementer melalui pendidikan dan pelatihan dengan selalu mengutamakan keamanan dan efektifitas yang tinggi.
Ruang lingkup pelayanan kesehatan masyarakat  menyangkut kepentingan masyarakat banyak, maka peranan pemerintah dalam pelayanan kesehatan masyarakat  mempunyai bagian atau porsi yang besar. Namun karena keterbatasan sumber daya pemerintah, maka potensi masyarakat perlu digali atau diikutsertakan dalam upaya pelayanan kesehatan masyarakat tersebut.
Pengembangan pelayanan kesehatan masyarakat yang dilakukan melalui Puskesmas didasarkan pada misi dididrikannya Puskesmas sebagai pusat pengembangan kesehatan (Centre for Health Development) di wilayah kerja tertentu.
 
B.     Permasalahan
1.    Apakah itu Pelayanan Kesehatan ?
2.    Seperti apakah pelayanan kesehahatan masyarakat ?
3.    Apa sajakah program pelayanan kesehatan masyarakat ?
4.    Bagaimana perkembangan program pelayanan kesehatan masyarakat di Indonesia ?
5.    Apa upaya untuk pengembangan pelayanan kesehatan masyarakat ?

C.    Tujuan dan Manfaat
a.    Tujuan
            Adapun tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah untuk memberikan informasi tentang pelayanan kesehatan masyarakat dan mengetahui program-program pelayanan kesehatan masyarakat di Indonesia.

b.    Manfaat
Pembuatan makalah ini diharapkan dapat bermanfaat bagi siapa saja yang ingin menambah wawasan dan pengetahun tentang pelayanan kesehatan masyarakat dan program pelayanan kesehatan masyarakat di Indonesia serta upaya untuk pengembangan pelayanan kesehatan masyarakat.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pelayanan Kesehatan
1.    Pengertian Pelayanan Kesehatan
Pengertian pelayanan kesehatan banyak macamnya. Menurut pendapat Levey dan Loomba (1973), Pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan sendiri atau secara bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok dan ataupun masyarakat.
2.    Macam Pelayanan Kesehatan
Pelayanan kesehatan mencakup pelayanan kedokteran (medical services) dan pelayanan kesehatan masyarakat (public health services). Jika dijabarkan dari pendapat Hodgetts dan Cascio (1983) adalah :
1.    Pelayanan kedokteran ditandai dengan cara pengorganisasian yang dapat bersifat sendiri atau secara bersama-sama dalam satu organisasi, tujuan utamanya ialaha untuk menyembuhkan penyakit dan memulihkan kesehatan, serta sasarannya terutama untuk perseorangan dan keluarga.
2.    Pelayanan kesehatan masyarakat ditandai dengan cara pengorganisasian yang umumnya bersama-sama dalam satu organisasi, tujuan utamanya ialah untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit, serta sasarannya terutama untuk kelompok dan masyarakat.
3.    Bentuk Pelayanan Kesehatan
Secara umum, ada 3 tingkat atau gradasi penyakit yaitu sakit ringan (mild), sakit sedang (moderate), dan sakit parah (severe) yang menuntut bentuk pelayanan kesehatan yang berbeda pula. Oleh sebab itu, perlu dibedakan adanya 3 bentuk pelayanan, yakni : 
1.    Pelayanan kesehatan tingkat pertama (Primary health care) :
Pelayanan kesehatan ini diperlukan untuk masyarakat yang sakit ringan dan masyarakat yang sehat untuk meningkatkan kesehatan mereka atau promosi kesehatan.Pelayanan yang diperlukan pada jenis ini bersifat pelayanan kesehatan dasar (basic health services) atau juga merupakan pelayanan kesehatan primer atau utama (primary health care).Bentuk pelayanan ini seperti Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Puskesmas Keliling, dan Balkesmas.
2.    Pelayanan kesehatan tingkat kedua (secondary health services) :
Pelayanan kesehatan ini diperlukan oleh kelompok masyarakat yang memerlukan perawatan nginap, yang sudah tidak dapat ditangani oleh pelayanan kesehatan primer.Bentuk pelayanan ini misalnya Rumah Sakit tipe C dan D, dan memerlukan tersedianya tenaga-tenaga spesialis.
3.    Pelayanan kesehatan tingkat ketiga (tertiary health services):
Pelayanan kesehatan ini diperlukan untuk kelompok masyarakat atau pasiaen yang sudah tidak dapat ditangani oleh pelayanan kesehatan sekunder.Pelayanan kesehatan ini sudah komplek, dan memerlukan tenaga-tenaga super spesialis. Contohnya Rumah sakit bertipe A dan B.

B.     Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Pelayanan kesehatan masyarakat bertujuan untuk meningkatkan kesehatan dan mencegah penyakit dengan sasaran utamanya adalah masyarakat. Oleh karena ruang lingkup pelayanan kesehatan masyarakat  menyangkut kepentingan masyarakat banyak, maka peranan pemerintah dalam pelayanan kesehatan masyarakat  mempunyai bagian atau porsi yang besar. Namun karena keterbatasan sumber daya pemerintah, maka potensi masyarakat perlu digali atau diikutsertakan dalam upaya pelayanan kesehatan masyarakat tersebut.
            Mengalang potensi masyarakat mencakup 3 dimensi, yaitu :
1.    Potensi masyarakat dalam arti komunitas (misalnya masyarakat RT, RW, Kelurahan dan sebagainya). Bentuk-bentuk partisipasi dan penggalian potensi masyarakat dalam pelayanan kesehatan masyarakat seperti adanya dana sehat, iuran untuk PMT (Pembinaan Makanan Tambahan), untuk anak balita, dan sebagainya.
2.    Menggalang potensi masyarakat melalui organisasi-organisasi masyarakat atau sering disebut Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Penyelenggaraan pelayanan-pelayanan kesehatan masyarakat oleh LSM-LSM pada hakikatnya merupakan bentuk partisipasi masyarakat dalam system pelayanan kesehatan masyarakat.
3.    Menggalang potensi masyarakat melalui perusahaan-perusahaan swasta yang ikut membantu meringankan beban penyelenggara pelayanan kesehatan masyarakat (Puskesmas, Balkesmas, dan sebagainya).
Ada beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan dalam pelayanan kesehatan masyarakat, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta, antara lain :
a.    Penanggung jawab; pengawasan, standar pelayanan, dan sebagainya dalam pelayanan kesehatan masyarakat baik pemerintah (Puskesmas) maupun swasta (Balkesmas) berada di bawah koordinasi penanggung jawab seperti Departemen Kesehatan.
b.    Standar pelayanan; pelayanan kesehatan masyarakat, baik pemerintah maupun swasta harus berdasarkan pada suatu standar tertentu. Di Indonesia standar ini telah ditetapkan oleh Departemene Kesehatan, dengan adanya “Buku Pedoman Puskesmas”
c.    Hubungan kerja; dalam hal ini harus ada pembagian kerja yang jelas antara bagian satu dengan yang lain. Artinya fasilitas kesehatan harus mempunyai struktur organisasi yang jelas yang menggambarkan hubungan kerja baik horizontal maupun vertical.
d.    Pengorganisasian potensi masyarakat; keikutsertaan masyarakat atu pengorganisasian masyarakat ini penting, karena adanya keterbatasan sumber-sumber daya penyelenggara pelayanan kesehatan masyarakat.

C.    Program Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Untuk memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh kepada seluruh masyarakat, maka berikut ini akan dipaparkan beberapa program pelayanan kesehatana masyarakat.
1.    Puskesmas
Usaha kesehatan masyarakat terutama dilakukan melalui peningkatan pelayanan Puskesmas dan upaya kesehatan kerja.Upaya kesehatan Puskesmas direncanakan terutama ditujukn kepada golongan ibu, anak, tenaga kerja, dan masyarakat berpenghasilan rendah baik di pedesaan maupun di perkotaan.
Puskesmas akan dikembangkan menjadi pusat pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya. Pemerataan upaya kesehatan Puskesmas akan diusahakan, baik melalui peningkatan fungsi Puskesmas maupun peran serta masyarakat dengan pendekatan Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD).
2.    Keluarga Berencana
Kegiatan kelurga berencana diarahkan pada pengembangan keluarga sehat sejahtera, yaitu dengan makin diterimanya Norma Keluaga Kecil yang Bahagia dan Sejahtera (NKKBS) melalui kegiatan penyuluhan dan motivasi pada pasangan usia subur, generasi muda serta pelayanan medic KB.
Pelaksanaan program KB dilaksanakan secara bertahap, mula – mula program mempunyai orientasi klinis.Kemudian berkembang dengan pesat, untuk mendapat liputan yang lebih luas, beberapa tenaga pelaksana lapangan ditempatkan di klinik juga diwajibkan mengadakan kunjungan ke rumah-rumah untuk memberikan motivasi dan penerangan di mana dapat memperoleh pelayanan KB.
Peningkatan peranan masyarakat dalam program KB akan memungkinkan alih peran pengelolaan program KB kepada masyarakat di masa yang akan datan, dengan demikian perkembangan NKKBS juga akan menjadi kenyataan.
3.    Kesejahteraan Ibu dan Anak
Pelayanan dan monitoring ibu hamil, ibu melahirkan, dan ibu menyusui ditingkatkan melalui pemeriksaan kehamilan, imunisasi, identifikasi risiko tinggi kehamilan dan tindak lanjutnya, pelayanan ibu menyusui dan pertolongan oleh tenaga terlatih.
Pelayanan bayi dan anak prasekolah termasuk murid Taman Kanak-kanak dilakukan melalui penelitian dan pengamatan dari pertumbuhan dan perkembangan secara berkala, imunisasi, identifikasi risiko tinggi dengan tindak lanjutdan pencegahan dehidrasi.
Peran serta masyarakat ditingkatkan melalui penyuluhan yang terutama ditujukan kepada ibu dan dukun beranakserta guru TK. Penyuluhan juga dilakukan melalui PKK.
4.    Kesehatan Sekolah
Melalui Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) diharapkan dapat ditingkatkan derajat kesehatan dan kemampuan untuk hidup sehat dari anak sekolah pada tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), SMP, dan SMA termasuk pondok pesantren melalui upaya peningkatan, pencegahan, pengobatan dan pemeliharaan sehingga mempunyai dampak terhadap penurunan angka absensi karena sakit.
5.    Kesehatan Gigi dan Mulut
Dalam memperluas jangkauan, pemerataan dan peningkatan suatu pelayanan kesehatan gigi dan mulut dilakukan kegiatan-kegiatan :
a.    Pelayanan kesehatan gigi pada unit kelurga terutama ibu hamil, ibu menyusui dan anak pra sekolah.
b.    Pelayanan kesehatan gigi dan mulut secara paripurna di sekolah dasar, kegiatan promotif dan preventif di SD.
c.    Pelayanan medic dasar kedokteran gigi dilakukan di puskesmas.
6.    Kesehatan Jiwa
Tujuan pokok kesehatan ini adalah mencegah meningkatnya angka penderita berbagai gangguan jiwa, seperti psikonerotik, psikomatik, retardasi mental, kelainan perilaku dan penyalahgunaan narkotik, alcohol, obat, dan bahan berbahaya lainnya.
Pelayanan kesehatan jiwa dilakukan berdasarkan pendekatan yang menyeluruh dan mendalam dari berbagai segi yang saling berkaitan, dan melakukan pembinaan sehingga dapat memberikan pelayanan kesehatan jiwa, terutama untuk dapat mendeteksi secara dini berbagai gangguan kesehatan jiwa.
7.    Laboratorium sederhana
Sasaran pokok kegiatan ini adalah meningkatkan kemampuan pemeriksaan sediaan, untuk mencapai ini dilakukan penataran tenaga laboratorium.Kegiatannya adalah melaksanakan pelayanan rutin, penyuluhan dan pengiriman sediaan penyakit dalam rangka pengamatan kejadian penyakit.
8.    Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD)
PKMD diselenggarakan oleh masyarkat sendiri yang pengelolaan di lapangan memanfaatkan sumber-sumber setempat dalam penyelenggaraan secara terus-menerus serta terorganisir hingga ikut merangkaikan hasil-hasil kegiatannya secara tersambung dengan perpanjangan program-program Puskesmas di desanya serta mampu terpadu dan menunjang system kesehatan nasional.
9.    Program pencegahan dan pemberantasan penyakit menular
Tujuan pokok kegiatan ini adalah untuk mencegah timbulnya penyakit, menurunkan angka kesakitan, kematian, dan akibt bu7ruk dari penyakit menular. Untuk mencapai tujuan tersebut diambil langkah-langkah untuk meningkatkan :
       Pengamatan penyakit menular, termasuk pelabuhan.
       Kualitas dan kuantitas tenaga di bidang epidemiologi, entomologi, ekologi, sanitasi, dan laboratorium.
       Kemampuan masyarakat untuk menolong dirinya sendiri dalam hal pencegahan dan pemberantasan penyakit menular dengan menggunakan teknologi tepat guna dan secara sederhana yang berhasilguna dan berdayaguna.
       Penggunaan alat, serum dan vaksin dalam negeri.
       Isolasi penderita npenyakit manular.
       Pengamatan vector penyakit.
10.Pencegahan dan pemberantasan penyakit tak menular
Tujuan kegiatan ini adalah menurunkan angka kesakitan dan angka kematian akibat penyakit jantung, dan pembuluh darah, kanker, kecelakaan, dan lain-lain.Kegiatan pelayanan penyembuhan dan pemulihan diutamakan pada pengobatan jalan melalui Puskesmas dan rujukannya.
Sebagai langkah pertama diadakan kegiatan pengumpulan data dan penelitian tentang masalah penyakit tak menular, antara lain dengan mengadakan kegiatan panduan dan penjaringan selektif pada Puskesmas di daerah tertentu.
11.Program perbaikan gizi
Program ini bertujuan bertujuan untuk menunjang upaya penurunan angka kematian balita, dan meningkatkan kemampuan masyarakat guna mewujudkan derajat kesehatan yang optimal, melalui peningkatan status gizi, terutama bagi golongan rawan dan masyarakat berpenghasilan rendah baik di desa maupun di kota.
Pokok kegiatan yang dilaksanakan dalm program perbaikan gizi adalah Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPKG), pencegahan dan penanggulangan penyakit gangguan gizi terutama KKP, Kekurangan Vitamin A, gondok endemic dan anemi gizi besi, peningkatan gizi anak sekolah, dan pelayanan gizi institusi.
12.Program peningkatan kesehatan lingkungan
Program ini bertujuan mencapai mutu lingkungan yang dapat menjamin kesehatan menuju derajat kesehatan masyarakat yang optimal, serta untuk mewujudkan keikutsertaan dan kesadaran masyarakat dan sector pemerintah yang berkaitan dalam tanggung jawab upaya peningkatan dan pelestarian kesehatan lingkungan.
Program ini meliputi program peningkatan air bersih, program penyehatan perumahan dan lingkungan, program pengawasan kualitas lingkungan, dan pengembangan kegiatan instalasi pemeriksaan specimen kesehatan lingkungan.
D.    Perkembangan Program Pelayanan Kesehatan Masyarakat di Indonesia
Mengkaji perkembangan pelayanan kesehatan massyarakat di Indonesia memang sejalan dengan perjuangan bangsa mensejahterahkan masyarakat Indonesia. Beberapa catatan penting di bawah ini baik sebelum maupun sesudah Indonesia merdekadapat dijadikan tonggak sejarah perkembangan program kesehatan masyarakat di Indonesia.
Ø  Tahun 1942 : Mulai dirintis pengembangan program pendidikan kesehatan masyarakat untuk peningkatan sanitasi lingkungan di wilayah pedesaan.
Ø  Tahun 1952 : Pengembangan upaya usaha Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) mulai dirintis dengan didirikannya Direktorat KIA di lingkungan Kementrian Kesehatan
Ø  Tahun 1956 : Proyek UKS diperkenalkan di wilayah Jakarta.
Ø  Tahun 1959 : Program pemberantasan penyakit malaria di milai dengan bantuan WHO.
Ø  Tahun 1960 : UU Pokok kesehatan dirumuskan
Ø  Tahun 1969 : Dengan mulai tersusunnya Repelita, sector kesehatan juga mulai menata perencanaannya secara nasional
Ø  Tahun 1982 : Sistem Kesehatan Nasional (SKN) mulai diberlakukan.
Ø  Tahun 1988 : Penggunaan obat generic diperkenalkan
Ø  Tahun 1991 : Dokter sebagai pegawai tidak tetap (PTT) mulai diberlakukan.
Ø  Tahun 1992 : UU no. 23 mulai diterapkan untuk sector kesehatan.
Ø  Tahun 1994 : Keppres 36 tentang strategi penanggulangan AIDS Nasional dan Daerah
Ø  Tahun 1995 : Pekan Imunisasi Nasional (PIN) dimulai untuk mencapai target Indonesia bebas polio tahun 2000.
Pembangunan Puskesmas di Indonesia mulai dirintis dengan berbagai pertimbangan yang bersifat strategis.Untuk jangka panjang pengembangan pelayanan kesehatan dasar (Primary Health Care/PHC) melalui Puskesmas dinilai jauh lebih efisien dan efektif hasilnya dibandingkan pengembangan pelayanan RS.
Dari konsep pengembangan PHC lahirlah konsep PKMD (Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa) di Indonesia. PKMD saat ini sudah berkembang menjadi model peran serta masyarakat di bidang pelayanan kesehatan yang kemudian diberikan nama sesuai dengan muatan lokalnya seperti muatan tambahan program gizi dikenal dengan nama UPKG (Upaya Pelayanan Gizi Keluarga); Proyandu (Program Pelayanan Terpadu) yang diberikan muatan program KIA, Gizi (Penimbangan Balita, pemberian vitamin A untuk Balita, dan Sulfas Ferrosus untuk Ibu Hamil), P2M (Imunisasi dan pemberantasan diare, cacingan), program KB (Konseling); POD (Pos Obat Desa); DUKM (Dana Upaya Kesehatan Masyarakat) semacam ansuransi kesehatan di desa; Bidan Desa dengan Polindes (Poliknik Persalinan); pembinaan pengobatan tradisional, dan sebagainya.
Globalisasi dan liberalisasi perdagangan dunia (AFTA 2003 dan APEC 2010-2020) akan berpengaruh pada kebijakan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia. Peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan dan pelatihan sangat dibutuhkan untuk memasuki persaingan global di bidang kesehatan.
Setelah 25 tahun Indonesia mengembangkan primary health care services, Indonesia sudah mencatat sukses besar dengan turunnya tingkat kematian bayi (IMR), tingkat fertilitas (FR), tingkat kematian ibu bersalin (MMR), kematian kasar (CDR), angka kesakitan beberapa penyakit menular terutama yang bias dicegah dengan imunisasi dan memperpanjang angka harapan hidup.
Meskipun Indonesia sudah mencatat sukses besar di bidang pembangunan kesehatan namaun globalisasi di bidang jasa pelanyanan kesehatan juga akan ditandai dengan adanya investasi modal asing di Indonesia untuk membangun pusat–pusat pelayanan kesehatan seperti RS dan laboratorium, termasuk di biidang farmasi dengan membangunpabrik obat PMA . Akibatnya, persaingan tenaga kesehatan juga akan berlangssung semakin ketat.

E.     Berbagai Upaya untuk Pengembangan Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Pengembangan pelayanan kesehatan masyarakat yang dilakukan melalui Puskesmas didasarkan pada misi dididrikannya Puskesmas sebagai pusat pengembangan kesehatan (Centre for Health Development) di wilayah kerja tertentu.Upaya pengembangannya dapat dilaksanakan melalui perluasan jangkauan wilayah sesuai dengan tingkat kemajuan wilayah sesuai dengan tingkat kemajuan transportasi, peningkatan rujukan, peningkatan mutu pelayanan dan keterampilan staf, peningkatan manajemen organisasi dan peningkatan peran serta masyarakat. Adapun upaya untuk  pengembangan pelayanan kesehatan masyarakat, antara lain :
1.    Meluaskan jangkauan pelayanan kesehatan sampai ke desa-desa dengan membangun Puskesmas yang baru, Puskesmas Pembantu, Pos Kesehatan, Posyandu, dan penempatan Bidan di desa yang mengelola sebuah polindes (Poliknik Persalinan Desa).
2.    Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, baik dengan meningkatkan keterampilan dan motivasi kerja staf dengan memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat maupun dengan cara mencukupi berbagai jenis kebutuhan peralatan dan obat-obatan.
3.    Pengadaan peralatan dan obat-obatan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Perencanaan pengadaan obat seharusnya didasarkan pada analisis epidemiologi penyakit yang berkembang di wilayah kerjanya.
4.    System rujukan di tingkat pelayanan kesehatan dasar lebih diperkuat dengan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan sampai ke tingkat desa. Rujukan pelayanan kesehatan akan dapat terlaksana bila pembangunan sector lain di tingkat Kecamatan juga mendukung yaitu tersedianya fasilitas transportasi yang lebih memadai dan peningkatan pendapatan keluarga.
5.    Peran serta masyarakat melalui pengembangan Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD). Kegiataan ini perlu dilakukan secara gotong-royong dan swadaya sehingga masyarakat mampu mencapai mutu hidup yang sehat dan sejahtera.  




BAB III
PENUTUP
A.   Kesimpulan
1.    Pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan sendiri atau secara bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok dan ataupun masyarakat (Levey dan Loomba,1973).
2.    Pelayanan kesehatan mencakup pelayanan kedokteran (medical services) dan pelayanan kesehatan masyarakat (public health services)
3.    Ketentuan yang perlu diperhatikan dalam pelayanan kesehatan masyarakat yaitu Penanggung jawab, standar pelayanan, hubungan kerja; dan pengorganisasian potensi masyarakat
4.    Program-program pelayanan kesehatan masyarakat meliputi Puskesmas, Keluarga Berencana, Kesejahteraan Ibu dan Anak, Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), Kesehatan Gigi dan Mulut, Kesehatan Jiwa, Laboratorium sederhana, Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD), Program pencegahan dan pemberantasan penyakit menular, Pencegahan dan pemberantasan penyakit tak menular, Program perbaikan gizi, dan Program peningkatan kesehatan lingkungan

B.   Saran
Saran yang dapat dikemukakan adalah diharapkan agar pemerintah meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat, agar tercapai derajat kesehatan masyarakat setinggi-tingginya.



DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Azrul.1996.Pengantar Administrasi Kesehahatan Edisi Ketiga.Tanggerang : Binapura Aksara
Muninjaya, A.A Gde.1999.Manajemen Kesehatan.Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC
Sukarni, Mariyati.1994.Kesehatan Keluarga Lingkungan.Yogyakarta : Kanisius
Notoatmodjo, Soekidjo.2003.Ilmu Kesehatan Masyarakat (Prinsip-prinsip Dasar).Jakarta : PT. Asdi Mahasatya
http://gustiayuendanghartanti.blogspot.com/2012/03/tugas-makalah-manajemen-kualitas.htmldi akses hari Rabu, 24 Oktober 2012
http://staff.blog.ui.ac.id/yaslis/2008/03/06/apa-yang-salah-dengan-program-kesehatan-kita/ di akses hari Rabu, 24 Oktober 2012